Teach Me to Shut Up


Pengkhotbah 3:7
Ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara.


Orang yang dapat menyesuaikan sikapnya dalam suatu siatuasi, dialah yang akan mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut. Diam merupakan pelajaran yang sangat sulit buat orang seperti saya. Sejak kecil orang-orang di sekitar saya selalu bilang kalau saya adalah orang yang “nggak bisa diam”. Bahkan waktu SMU, saya pernah dinobatkan sebagai cowok paling “bawel” di kelas.

Diam dapat diartikan bermacam-macam. Kadang diartikan sebagai cuek atau tidak mau tahu. Tapi secara positif, diam berarti memperhatikan (pay attention). Setiap kalimat “pay attention” yang tertera pada alat-alat listrik atau tempat-tempat tertentu harus kita perhatikan dengan baik. Karena apa yang dikatakan kemungkinan besar dapat menyelamatkan hidup kita dari bahaya.

Pada waktu kita diam dan memperhatikan orang lain yang sedang berbicara, pada saat itulah kita sedang menghargai mereka dan apa yang mereka katakan. Diam berarti berusaha memahami orang lain. Saya menemukan bahwa orang yang tidak mau menghargai perkataan orang lain adalah orang yang sangat lamban dalam belajar.

Sebagai seorang pendeta muda, berkali-kali saya terganggu oleh orang-orang yang asyik ngobrol selama saya berkhotbah. Kadang ada orang yang ngobrol dengan suara yang cukup keras sehingga mengganggu konsentrasi orang lain. Alhasil saya dapat memastikan bahwa orang tersebut tidak mengerti apa yang saya sampaikan. Dan saya dapat memastikan bahwa orang tersebut tidak menghargai orang yang sedang berbicara dan orang-orang lain yang sedang mendengarkan.

Saat terpenting untuk kita diam ialah saat emosi dan pikiran kita kacau. Saya mengingat banyak peristiwa yang saya sesali karena berbicara pada saat emosi sedang tidak stabil dan pikiran sedang kacau. Hasilnya, ada orang-orang yang sakit hati atau kecewa oleh perkataan saya.

Sampai dengan saat ini, diam masih merupakan mata pelajaran yang terus saya gumuli setiap saat. Salah satu doa saya sejak malam tahun baru ialah “teach me to shut up LORD“. Karena pada waktu saya diam, saya belajar. Pada waktu saya diam, saya menghargai orang lain. Dan saat saya diam, saya mendapatkan nformasi yang penting untuk saya hidup lebih baik lagi.

Belajar untuk diam adalah belajar menemukan rahasia hati yang tak dapat kita temukan dengan terus berkata-kata.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Antusiaslah



Yesaya 40:29
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

Survey terhadap 200 pemimpin nasional di Amerika menyatakan bahwa yang menjadikan seseorang sukses itu, 80% adalah antusiasme. Menurut buku yang berjudul Survival Skill yang ditulis oleh Stan Toler & Glen, kata ‘antusias’ atau ‘enthusiasm‘ berasal dari dua kata Yunani, yaitu “en” (di dalam) dan “theos” (Allah). Jadi, kita dapat menemukan ‘enthusiasm‘ di dalam Allah.

“Di dalam Allah” memiliki arti “penyerahan diri, dikuasai dan dipimpin oleh Allah”. Kehidupan yang dibangun setiap hari “di dalam Allah” akan menghasilkan bahan bakar kehidupan di dalam hidup kita. Amsal 18:14 berkata: “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?

Semangat yang patah dapat kita ibaratkan seumpama “sayap-sayap patah” yang membuat kita tidak bisa terbang tinggi di dalam kehidupan. Waktu kita terbang semakin tinggi, kita akan melihat segala sesuatu yang ada di bawah langit menjadi begitu kecil. Sadarkah Anda bahwa ‘antusiasme’ yang ada di dalam hati kita sangat mempengaruhi cara kita memandang masalah?

Kalau saat ini kita merasa bete, stres, kecewa atau tidak berpengharapan, ini saatnya kita merasakan hadirat Bapa yang mengubahkan cara pandang kita tentang kehidupan. Kita tidak bisa memaksa diri kita untuk menjadi antusias sebelum kita mengubah cara pandang kita terhadap suatu hal, yaitu melalui kaca matanya Tuhan. Melihat problem (masalah) sebagai opportunity (kesempatan). John Ollis dari Hillsong Church menyebutnya sebagai “pengalaman mata yang terbuka”.

Selain perubahan cara pandang, antusiasme juga datang melalui hadirat Roh Kudus yang mengisi penuh “baterai kehidupan” kita seperti sebuah charger. Jika baterai HP kita lemah (low batt), maka tidak lama kemudian HP tersebut tidak akan bisa dipakai. Roh Kudus ingin memakai kita hari ini untuk memberkati banyak orang di sekitar kita, tetapi pastikan “your battery is full“. Jesus is our power-supply.

Seorang bernama Thomas Carlisle pernah berkata: “Berikan saya seorang yang menyanyi dalam pekerjaannya. Orang semacam itulah yang ingin saya pekerjakan.”

Milikilah cara pandang Tuhan dalam hidup maka Anda akan melihat kehidupan dengan penuh antusias.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Tuhan Pasti Sanggup – Quoted by Priskila’s FB Notes

Tuhan Pasti Sanggup
quoted from Priskila’s facebook’ Notes
Kuatkanlah hatimu
Lewati setiap persoalan
Tuhan Yesus selalu menopangmu
Jangan berhenti harap padaNya

Tuhan Pasti Sanggup…
TanganNya takkan terlambat untuk menganggkatku
Tuhan Masih Sanggup…
Percayalah, Dia takkan tinggalkanmu…

Percayalah, Diakan mengangkatmu…

[Begitu banyak hal yang sedang dilalui, sejujurnya secara manusia tidak sanggup menghadapinya, namun Yesus masih sanggup untuk menguatkan hati menghadapi semua persoalan ini, terus berharap, sebab pertolonganNya takkan pernah terlambat, tetapi tepat pada waktunya]

BADAI

Mazmur 46:2-4
Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.

Pada suatu hari seorang yang tinggal di tepi pantai mengamati pemandangan yang indah. Di pantai itu banyak kapal yang sedang berlayar. Tiba-tiba ia melihat badai datang. Ia lalu melihat 3 reaksi yang berbeda: Ada kapal yang cepat-cepat lari untuk menghindari badai tersebut, ada kapal yang tenggelam dalam badai tersebut dan ada kapal yang berlayar menuju badai tersebut.

Ternyata, kapal yang ketiga adalah kapal dari regu penyelamat. Kapal ini masuk ke dalam badai untuk menolong kapal yang tenggelam. Seperti kapal-kapal tersebut bereaksi terhadap badai, demikianlah sikap kita dalam menghadapi badai kesulitan. Ada orang yang lari dan menghindari kesulitan, ada orang yang tenggelam dalam kesulitannya dan ada pula orang yang terjun untuk menolong orang yang sedang kesulitan dan dengan berani menghadapi kesulitannya sendiri.

Orang-orang yang terlatih dan siap menghadapi badai seperti regu penyelamat biasanya tidak takut menghadapi badai. Mereka hidup dalam keadaan siap jauh sebelum badai datang.

Reaksi Anda ketika menghadapi masalah menunjukkan kualitas Anda yang sebenarnya.