Berkat Tuhan

Mazmur 133:1
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32

Mazmur 133 adalah mazmur yang indah dan berisi banyak hikmat. Mazmur ini berkata bahwa Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya bilamana kita hidup rukun bersama. Tuhan Yesus, pada akhir hidupnya, berdoa agar kita – semua orang yang percaya – dapat bersatu. Hidup dalam kerukunan atau kedamaian merupakan syarat yang penting untuk menerima dan menikmati berkat Tuhan. Mengapa?

Orang yang tidak dapat hidup rukun dengan sesamanya tidak mugkin dapat hidup rukun dengan Tuhan. Bila hidup kita dengan sesama dipenuhi dengan konflik, maka hati kita akan penuh dengan luka dan kepahitan yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan. Surat Petrus berkata bahwa ketidakrukunan antara suami dan istri dapat menjadi penghalang doa. Tuhan Yesus juga memerintahkan agar kita terlebih dahulu membereskan hubungan kita dengan sesama sebelum kita datang kepada-Nya untuk memberikan persembahan kita.

Kerukunan menghasilkan kebahagiaan. Ini adalah berkat Tuhan yang terbesar dalam hidup sebab setiap orang ingin berbahagia. Bila kita ingin berbahagia, kita harus belajar untuk hidup rukun dengan sesama. Yesus, Raja Damai itu, ingin bersemayam di dalam hati yang dipenuhi dengan kedamaian.

Pintu berkat Tuhan akan terbuka ketika Anda hidup dalam kerukunan.

Via renungan-harian-kita.blogspot.com

Renungan Harian

Tuhan yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati. —Rut 2:20

Seandainya Naomi pernah bermimpi untuk pulang ke kampung halamannya dengan membawa kekayaan dan kesuksesan, kembali ke Betlehem justru akan menjadi mimpi buruk baginya. Ketika hidup di negeri asing, ia telah kehilangan suami dan dua putranya. Kini ia pulang hanya bersama Rut, menantu perempuannya, dan dengan kepedihan hati yang amat mendalam. “Janganlah sebutkan aku Naomi [yang artinya: kesukaan]; sebutkanlah aku Mara [kepahitan],” kata Naomi kepada mereka yang dulu menjadi tetangganya, “sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku” (Rut 1:20).

Namun, ini bukanlah akhir dari kisah tersebut. Ketika Naomi yang patah semangat ini melihat tangan Allah bekerja dalam kehidupan Rut, ia berkata, “Tuhan yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati!” (2:20). Yang semula terlihat seperti jalan buntu telah menjadi pintu yang terbuka bagi dua wanita yang telah kehilangan begitu banyak ini.

Kitab Rut dalam Perjanjian Lama adalah kisah yang sangat indah. Narasinya yang singkat diwarnai dengan keindahan dan anugerah yang mengagumkan ketika nama “Tuhan” disebutkan berulang kali.

Melalui Naomi dan Rut, kita diingatkan bahwa Allah bekerja dengan cara-cara yang mengejutkan untuk menyatakan kasih-Nya dan untuk menggenapi tujuan-Nya, bahkan di masa-masa yang sulit sekalipun.

Kiranya kita terus dikuatkan oleh kejutan-kejutan Allah yang masih berlangsung. Dia tidak pernah berhenti menyatakan kebaikan-Nya kepada Anda dan saya. —DCM

Dia yang kebaikan hati-Nya melampaui segala hal,
Setiap hari memberikan yang dianggap-Nya terbaik—
Dengan penuh kasih, berupa penderitaan maupun kesenangan,
Kerja keras berbaur dengan istirahat dan damai sejahtera. —Berg

Ketika kita tidak mengerti maksud Allah, tangan pemeliharaan-Nya mengajar kita percaya kepada-Nya.

Via WarungSaTeKamu.org

Berharga di Mata Tuhan

Banyak orang Kristen merasa dirinya tidak berharga, mungkin karena merasa ditolak oleh orang lain, kurang cakap atau tidak memiliki talenta sebanyak orang lain. Rasa tidak berharga juga muncul dalam relasinya dengan Tuhan, ia merasa diri kurang suci, kurang layak akibat ‘dosa’ yang diperbuatnya. Atau perasaan tidak berharga ini muncul tatkala ia berada dalam kesusahan dan merasa Allah tidak memperhatikan dirinya.

Bagaimanakah pandangan Tuhan terhadap kita selaku umatNya? ternyata Allah menganggap kita begitu berharga di mataNya. Melalui pembacaan Injil Lukas 21-22 tentang baptisan Yesus di sungai Yordan mau mengingatkan bahwa bukan sekedar solidaritas Yesus dengan orang banyak yang berdosa, tetapi mau menunjukkan betapa berharga manusia dalam pandangan Allah, sehingga Allah mengutus AnakNya yang Tunggal ke dalam dunia untuk menjadi Penebus dosa. Pada peristiwa baptisan tersebut, Allah memproklamasikan bahwa Yesus adalah AnakNya yang harus didengar oleh umatNya.

Demikian juga dalam Kisah Para Rasul 8:14-17 tentang jemaat Samaria, sengaja Lukas membahas hal ini, sekali lagi bukan sekedar baptisan Roh Kudus, tetapi ingin mengingatkan bahwa orang Samaria yang dianggap musuh oleh orang Yahudi, mereka dianggap kafir dan dianggap sebagai penyembah berhala kini dapat berdiri sejajar dengan orang-orang Yahudi lainnya, karena di mata Tuhan mereka juga sama berharga.

Melalui pembacaan Yesaya 43:1-7 kita melihat bagaimana pandangan Tuhan terhadap umat Isreal, sekalipun mereka telah memberontak terhadap Allah, namun Tuhan kembali membentuk, menebus, menolong, dan menyertai karena begitu berharga di mata Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita.